BANDUNG KOTA SAMPAH
Oleh: Papa Samrotul Puadah
Sastra Inggris, Universitas Pasundan Bandung
Disetiap sudut kota, desa ataupun dimana saja pasti kita akan
menemukan sebuah pasar, terutama pasar tradisional. Di kota Bandung ini yang
namanya pasar tradisonal sangatlah menjamur. Sebut saja pasar Andir dan Ciroyom
yang tempatnya tidak jauh dari rumah saya. Hanya cukup mengeluarkan uang
Rp.1.000,- sudah sampai ke pasar Andir
yang terkenal dengan pasar malam hinga pagi hari . Para pedagang dari
sore hari sudah bersiap-siap untuk menjajankan dagangannya. Setiap sore pula
saya menyaksikan para pedagang itu membereskan dan memberesihkan dagangan
mereka di pinggir-pinggir jalan raya. Khususnya sayuran seperti kangkung,
bayam, kol, wortel, dan lain sebagainya. Sayuran-sayuran tersebut biar rapih
dan terlihat segar di celupkan kedalam ember besar berisi iri. Dan sesekali
sayuran-sayuran itu di ciprati air. Pemandangan yang sungguh indah dimata saya.
Malampun datang para pembeli mulai berdatangan untuk melakukan transaksi
antara pembeli dan pedangangpun berlangsung. Saling tawar menawar harga be srlangsung
suasana pasarpun semakain ramai, satu sama lain saling bersahutan. Dari sudut
satu ada pedagang tempe dan tahu Cibuntu yang menyalakan musik dangdut sangat
kerasa semakin ramailah pasar Andir di malam yang dingin.
Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya, namun suasana jual beli
masih berjalan seperti tadi malam. Hanya saja para pedagang ini membuat jalanan
macet, karena mereka berjualan di jalan yang seharusnya di gunakan oleh roda
dua dan empat. Macetpun tidak terelakkan lagi hanya satu ruas jalan yang disisakan
oleh para pedagang sungguh ironis, namun ini sudah menjadi budaya di kalangan
masyarakat kita.
Jam 09.00 WIB para pedagang sudah tiada. Mereka pulang ke rumah
masing-masing yang entah dimana rumah mereka. Namun sisa jualan mereka tidak
ikut pulang bersama mereka. Sampah-sampah itu ditinggal begitu saja dan tidak
mereka hiraukan. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikan. Tumpukan daun
jagung, kulit kelapa, kol busuk sisa
dijual, tumpukan sampah plastik pun tidak luput menyatu bersama sampah-sampah organik
lainya. Para pedang itu seolah tidak peduli dengan pasilitas umum khususnya
jalan raya yang telah mereka kotori dan seolah tidak merasa risih. Mereka
menganggap membuang sampah sembarangan itu hal biasa bahkan lumrah.Miris.
Namun para pemberesih jalan tidak tinggal diam, mereka perlahan
memberesihkan tumpukan-tumpak sampah dan menyapunya secara perlahan pula. Tapi
tetap saja mereka tidak bisa berbuat banyak hanya sebagaian yang bisa mereka
beresihkan yang lainnya tetap saja menumpuk begitu saja di pinggir jalan.
Bahkan sebagian terinjak motor dan mobil sehingga sampah itu melekat di jalan
lalu mengeluarkan cairan hitam pekat dan berbau. Sehingga pinggiran jalan yang seharusnya
rapih nan asri ini sebaliknya. Dipinggiran jalan yang terlihat tumpukan sampah
yang menggunung, beraroma tidak sedap dan cairan hitam pekat perlahan mengalir
begitu saja. Setiap hari minggu tumpukan sampah itu menumpuk bahkan menyerupai
gunung Ciremai. Apalagi petugas keberesihan libur sampahpun tidak
terperhatikan. Pasar sampahpun terjadi.
Saya selalu berandai-andai kota ini beresih seperti kota kelahiranku.
Bandung saat ini terkenal dengan sebutan ‘‘kota sampah bukan kota kembang
lagi”. Ironis.
Coba saja para pedagang ini sadar akan bahaya buang sampah
sembarang itu adalah hal yang buruk. Namun bukan hanya para pedagang yang harus
sadar diri namun seluruh masyarakat kota Bandung. Atau saja para pemerintah
yang berkecimpung dalam menangani keberesihan kota itu harus lebih tegas pada
seluruh warganya dan menyediakan tempat pembuangan sampah yang banyak dan
layak. Kalau untuk para pedagang kaki lima atau yang berjualan dipasar harus sadar
pula akan keberesihan. Sisa jualan mereka dan sampahnya dibawa pulang ke rumah
masing-masing lagi pula apa susahnya? Bukan hanya uang yang mereka kantongi namun
sampah milik merekapun harus di kantongi pula. Sampah-sampah tersebut bisa di
masukan ke dalam karung atau plastik bekas bawaan dagangan tadi. Sehingga suasa
pasar itu akan beresih dan kondusif.
Memang antara pemerintah dan masyarakat itu harus saling
membutuhkan dan membatu satu sama lain. Tidak saling egois dan memikirkan
kepentingan pribadi. Budaya buang sampah sembarang ini kayanya sudah menjadi
kebiasaan biasa kalau kata bahasa sundanya “ ngeugeus sakulit sadaging”.
Jadi susah untuk di pisahkan. Saya sering temukan dan melihat semua ini bukan
pasar makanan ataupun sayuran hiajau, namun pasar sampah yang sangat
mengerikan. Dari sikap manusia yang buang sampah sembarangan dan tidak peduli
lingkungan bahaya banjirpun beberapa tahun kedepan akan menghantui kehidupan
sekitar. Rusaklah bumi ini oleh manusia itu sendiri.