Senin, 02 Desember 2013

Bandung Kota Sampah



BANDUNG KOTA SAMPAH
Oleh: Papa Samrotul Puadah
Sastra Inggris, Universitas Pasundan Bandung
Disetiap sudut kota, desa ataupun dimana saja pasti kita akan menemukan sebuah pasar, terutama pasar tradisional. Di kota Bandung ini yang namanya pasar tradisonal sangatlah menjamur. Sebut saja pasar Andir dan Ciroyom yang tempatnya tidak jauh dari rumah saya. Hanya cukup mengeluarkan uang Rp.1.000,- sudah sampai ke pasar Andir  yang terkenal dengan pasar malam hinga pagi hari . Para pedagang dari sore hari sudah bersiap-siap untuk menjajankan dagangannya. Setiap sore pula saya menyaksikan para pedagang itu membereskan dan memberesihkan dagangan mereka di pinggir-pinggir jalan raya. Khususnya sayuran seperti kangkung, bayam, kol, wortel, dan lain sebagainya. Sayuran-sayuran tersebut biar rapih dan terlihat segar di celupkan kedalam ember besar berisi iri. Dan sesekali sayuran-sayuran itu di ciprati air. Pemandangan yang sungguh indah dimata saya.
Malampun datang para pembeli mulai berdatangan untuk melakukan transaksi antara pembeli dan pedangangpun berlangsung. Saling tawar menawar harga be srlangsung suasana pasarpun semakain ramai, satu sama lain saling bersahutan. Dari sudut satu ada pedagang tempe dan tahu Cibuntu yang menyalakan musik dangdut sangat kerasa semakin ramailah pasar Andir di malam yang dingin.
Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya, namun suasana jual beli masih berjalan seperti tadi malam. Hanya saja para pedagang ini membuat jalanan macet, karena mereka berjualan di jalan yang seharusnya di gunakan oleh roda dua dan empat. Macetpun tidak terelakkan lagi hanya satu ruas jalan yang disisakan oleh para pedagang sungguh ironis, namun ini sudah menjadi budaya di kalangan masyarakat kita.
Jam 09.00 WIB para pedagang sudah tiada. Mereka pulang ke rumah masing-masing yang entah dimana rumah mereka. Namun sisa jualan mereka tidak ikut pulang bersama mereka. Sampah-sampah itu ditinggal begitu saja dan tidak mereka hiraukan. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikan. Tumpukan daun jagung, kulit kelapa,  kol busuk sisa dijual, tumpukan sampah plastik pun tidak luput menyatu bersama sampah-sampah organik lainya. Para pedang itu seolah tidak peduli dengan pasilitas umum khususnya jalan raya yang telah mereka kotori dan seolah tidak merasa risih. Mereka menganggap membuang sampah sembarangan itu hal biasa bahkan lumrah.Miris.
 Namun para pemberesih jalan tidak tinggal diam, mereka perlahan memberesihkan tumpukan-tumpak sampah dan menyapunya secara perlahan pula. Tapi tetap saja mereka tidak bisa berbuat banyak hanya sebagaian yang bisa mereka beresihkan yang lainnya tetap saja menumpuk begitu saja di pinggir jalan. Bahkan sebagian terinjak motor dan mobil sehingga sampah itu melekat di jalan lalu mengeluarkan cairan hitam pekat dan berbau.  Sehingga pinggiran jalan yang seharusnya rapih nan asri ini sebaliknya. Dipinggiran jalan yang terlihat tumpukan sampah yang menggunung, beraroma tidak sedap dan cairan hitam pekat perlahan mengalir begitu saja. Setiap hari minggu tumpukan sampah itu menumpuk bahkan menyerupai gunung Ciremai. Apalagi petugas keberesihan libur sampahpun tidak terperhatikan. Pasar sampahpun terjadi.  Saya selalu berandai-andai kota ini beresih seperti kota kelahiranku. Bandung saat ini terkenal dengan sebutan ‘‘kota sampah bukan kota kembang lagi”. Ironis.
Coba saja para pedagang ini sadar akan bahaya buang sampah sembarang itu adalah hal yang buruk. Namun bukan hanya para pedagang yang harus sadar diri namun seluruh masyarakat kota Bandung. Atau saja para pemerintah yang berkecimpung dalam menangani keberesihan kota itu harus lebih tegas pada seluruh warganya dan menyediakan tempat pembuangan sampah yang banyak dan layak. Kalau untuk para pedagang kaki lima atau yang berjualan dipasar harus sadar pula akan keberesihan. Sisa jualan mereka dan sampahnya dibawa pulang ke rumah masing-masing lagi pula apa susahnya? Bukan hanya uang yang mereka kantongi namun sampah milik merekapun harus di kantongi pula. Sampah-sampah tersebut bisa di masukan ke dalam karung atau plastik bekas bawaan dagangan tadi. Sehingga suasa pasar itu akan beresih dan kondusif.
Memang antara pemerintah dan masyarakat itu harus saling membutuhkan dan membatu satu sama lain. Tidak saling egois dan memikirkan kepentingan pribadi. Budaya buang sampah sembarang ini kayanya sudah menjadi kebiasaan biasa kalau kata bahasa sundanya “ ngeugeus sakulit sadaging”. Jadi susah untuk di pisahkan. Saya sering temukan dan melihat semua ini bukan pasar makanan ataupun sayuran hiajau, namun pasar sampah yang sangat mengerikan. Dari sikap manusia yang buang sampah sembarangan dan tidak peduli lingkungan bahaya banjirpun beberapa tahun kedepan akan menghantui kehidupan sekitar. Rusaklah bumi ini oleh manusia itu sendiri.
                

Cantik



CANTIK???
Oleh
Papa Samrotul Puadah
            Cantik menurut kamus oxpord dictionary beatiful is very pretty or attractive , giving pleasure to the sense. Yang berarti wanita cantik adalah seseorang yang membuat setiap orang melihatnya merasa nyaman dan tertarik bahkan ada rasa ingin memiliki. Seperti kita kalau melihat artis Olla Ramlan yang tinggi, seksi,cantik lagi. Kalau bahasa gaulnya “enak dipandang bikin mata kalang kabutan”. Kini banyak wanita yang tergiur untuk mengubah dirinya semakin cantik dan seksi. Seperti menyulam alis dan bibir yang sedang tren saat ini. Sungguh ironis mau tampil cantik tapi harus menyiksa diri. Dan mengeluarkan biaya yang mahal. Pandangan wanita cantik  sekarang adalah beralis hitam tebal, bibir merah merona, body montok plus putih mulus tanpa ada cacat sedikitpun. Ditambah bra berukuran 36B.
            Saat ini sering kita lihat ditelevisi iklan-iklan produk kecantikan yang mengggiurkan, bagi setiap wanita yang melihatnya. Inti dari iklan ditelevisi tersebut adalah wanita cantik itu berkulit putih tanpa titik, berfostur tubuh langsing, bibir merah merona,berambut hitam kemilau dan tanpa bau badan. Sungguh luar biasa. Sehingga banyak sekali kontes-kontes kecantikan digelar saat ini. Para wanitapun berlomba-lomba untuk menobatkan dirinya menjadi wanita tercantik dan terseksi. Untuk saat ini kecerdasan dan intelektualitas seseorang dijadikan nomor dua. Untuk mengikuti kontes kecantikan persyaratan utama berbadan tinggi semampai, berparas cantik dan menarik. Maka kesempatan besar untuk mengikuti kontes kecantikan itu tidak disia-siakan oleh para wanita yang berparas cantik dan berbadan tinggi. Wanita biasapun tidak mau ketinggaan, maka diapun pergi kesalon kecantikan untuk mengubah dirinya menjadi putri cantik sementara. Mereka rela merogoh kocek jutaan rupiah demi tampil cantik dan bisa mengikuti kontes kecantikan.
            Padahal seorang wanita itu tidak hanya cantik lahir namun harus disertai dengan cantik batin. Untuk memenuhi kecantikan lahir banyak sekali produk-produk disekeliling kita, bahkan membuat banyak wanita terjebak didalamnya. Cantik batin itu seharusnya menjadi nomor utama pagi para wanita diseluruh dunia ini. Cantik batin disini adalah seseorang yang selalu bisa menahan emosi ketika marah, bisa berinteraksi dengan siapapun, dia selalu tersenyum walaupun sedang banyak masalah dia tidak pernah mengumbar nafsu. Selain itu juga dibarengi dengan kecerdasan intelektual yang luar biasa. Seperti ibu kita Kartini pejuang kaum wanita Indonesia,  yang telah mengubah kaum wanita Indonesia untuk bisa bersaing dengan kaum adam. “ Habis Gelap Terbitlah Terang” itu slogan popular untuk kemajuan wanita Indonesia.
            Emansipasi wanita” kata inilah yang menjadi lawang utama wanita Indonesia untuk mensejajarkan dirinya dengan kaum adam. Modal utama untuk mensejajarkan dirinya adalah cantik. Ironi sekali banyak wanita mengatas namakan emansipasi wanita dengan menjerumuskan dirinya kejurang kenistaan. Seperti adanya ajang kontes kecantikan yang merajalela dimana-mana saat ini. Miris. Kontes tersebut para wanita berlomba-lomba untuk memamerkan kecantikan yang dimilikinya masing-masing, mereka harus siap untuk melakukan apapun yang diperintahkan olen para juri. Memamerkan kemolekan tubuh itu sudah dianggap biasa dan wajar untuk sekarang ini. Ini merupakan modal utam untuk menobatkan diri menjadi wanita cantik di negeri ini.
            Berpenampilan cantik tidak ada salahnya namun harus melihat kondisi dan keadaan. Jangan terobsesi dalam kecantikan luar saja. Dengan mengubah seluruh pisik kita dengan menyulam alis, bibir, memutihkan kulit, operasi hidung, permak wajah dsb. Cantik itu lahir itu ada batas kadaluarsanya. Wanita sudah berkepala tiga sudah bisa dikatakan sudah dewasa atau bahkan tua. Namun cantik bati atau inner beauty itu sampai kapanpun tidak akan penah kadaluarsa karena tidak ada batas waktu yang menentukan.
            Kalimat Emansipasi Wanita itu dijadikan mantra kuat untuk wanita saat ini. Mereka melupakan kodratnya sebagai wanita sesungguhnya. Seperti yang diajarkan oleh ibu kita Kartini, beliau tidak pernah lupa dengan kodratnya sebagai istri yang selalu menghormati dan melayani suami. Beliau tidak lupa bahwa seorang wanita itu harus menjadi seorang ibu untuk merawat, membesarkan, dan memdidik anaknya agar menjadi anak yang baik dan tidak kurang kasih sayang ibunya. Inilah wanita cantik sesungguhnya. Bukan hanya memamerkan kemolekan tubuh dan melupakan kodratnya sebagai wanita sesungguhnya. Pesan dari ibu kita Kartini adalah seorang wanita itu tidak hanya pintar di kasur, sumur dan dapur saja namun wanita  harus cerdas dalam segala hal. Dan bisa mengubah apa saja dan menjadikan wanita itu bisa bersaing dengan kaum adam, tanpa mengubah kodratnya sebagai wanita. This is the real beauty. (papatsf).

Selasa, 23 Oktober 2012

cerpen baru gue


Bandung, 18 Juni 12
KISAHKU
Oleh : Papa Samrotul Puadah
Malam ini terasa sepi, sesepi hatiku yang tidak henti-hentinya memikirkan dia nan jauh disana. Aneh sudah empat hari ini dia tidak memberiku kabar, atau sms sekalipun, hati ini bertanya-tanya apa salahku padanya?. Aku tahu dia bukan siapa-siapa tapi nama dia telah terukir di dalam hatiku yang paling dalam. Satu tahun aku kenal dengannya, dan kini dia pergi entah kemana.
“ Woy, bangun dong ,,, tidur mulu malu tuh sama ayam!” kakakku berteriak-teriak membangunkanku yang sedari tadi hanya diam bertemankan selimut warna merah kesayanganku. Kakak kira aku belum bangun padahal dari jam 4 pagipun aku sudah bangun karena aku ingat dia yang selalu membangunkanku untuk solat malam.
“ iya kak, Maya tuh dari tadi juga sudah bangun, cuman males saja keluar kamar”. Jawabku sebari membuka pintu kamar dengan malas-malasan.
“ Ya, ampun May  gue kira lo sakit, biasanya lo yang bangunin kakak, ya sudah kakak teriak-teriak manggil lo. Emangnya lo kenapa? kakak perhatiin lo murung terus seperti tak ada gairah untuk hidup?”.
Kakak ku yang satu ini memang gaya bicara betawi gitu, padahal kami asli orang sunda, namun kakakku yang bernama Citra itu sudah lama tinggal di Jakarta dia bekerja di salasatu stasiun televisi swasta ternama di Jakarta. Kak Citra merupakan kakakku yang paling dekat denganku, apapun yang terjadi  denganku dia pasti tahu, umurku hanya terpaut 5 tahun. Aku hanya diam tidak memnjawab pertanyaan kakaku yang bertubi-tubi.
“ May, lo mau ikut gak nonton, kebetulan hari ini ada film bagus, kita kan sudah lama tidak nonton bareng?”. Ajaknya sebari duduk diatas kasur kesayanganku.
“ Maaf ya kak,  untuk hari ini Maya gak bsa ikut soalnya Maya lagi males kemana-mana, Maya hanya ingin berdiam diri di rumah tanpa ada orang yang ganggu Maya, sekali lagi maaf banget ya kak”. Jawabku dengan nada memelas di tambah ekspresi muka menghawatirkan.
“ Ya, sudah kalau lo gak mau ikut mah kakak tidak maksa kok. Tapi kalau lo punya masalah cerita dong sama kakakmu yang cantik ini”.
“Iya kak, pasti Maya cerita tapi nanti yah!?”.
“ iya, sip awas loh kakak tunggu”.
* * *
Apa mungkin aku telah melukai hatinya, dengan jawaban-jawaban yang membuat dia berfikir kembali untuk mengenal lebih dekat tentangku. Entahlah aku tidak tahu. Tapi seingatku dia pernah menayakan tentang apa golongan darahku. Aku jawab bahwa golongan darahku A, sedangkan dia B. Antara A dan B itu sifatnya sangat bertolak belakang dan terkesan bagaikan langit dan bumi. Aku akan selalu ingat nasihat-nasihat yang dia sampaikan padaku, dan tentang keinginan dia untuk pergi ke Eropa. Walau bagaimanapun dia adalah sosok laki-laki yang telah singgah di hatiku.
“ May, ini pesanan lo makan, nanti keburu dingin so, gak enak dech!”. Kakak ku telah pulang dari acara nontonnya, sedangkan aku dari tadi  masih berdiam diri di kamar.
“Iya kak, bentar nanti Maya turun”.
Kakak membawakan mie ayam Inochi kesukaanku.  Memang dalam hidupku tiada hari tanpa mie ayam. Mie ayam merupakan sala satu favorit makannanku.
“ Cepet May, turun entar malah di embat sama si ade, diakan rakus banget makannya”.
* * *
“ May, lo jangan murung gitu dong, kakak kangen canda-tawamu May. Lo kan orangnya tidak pernah diam, sifat lo itu bawel and cerewet, tapi selama 2 minggu ini lo hanya diam, untuk mengeluarkan suarapun lo males banget. Lo kenapa sih May?”.
Aku hanya diam, dan memggelengkan kepala ini yang terasa berat sekali seolah-olah ada beban berton-ton beratnya. Setelah kak Citra membujukku untuk cerita apa yang terjadi sebernya denganku. Maka ku ceritakan semuanya apa yang terjadi padaku saat ini pada kak Citra. Kakaku hanya diam dan sesekali menganggukan kepalanya tanda dia mengerti apa yang ku ceritakan.
“ Ya ampun May, jadi selama dua minggu ini lo kaya gini, karena gara-gara lo mikirin lelaki yang selama ini lo suka. Astaga naga Maya,,, Maya”. Tangannya sebari mengelus-ngelus rambutku dengan penuh kasih sayang.
“Tuh kan kakak mah pasti ujung-ujungnya ngeledekin Maya”. Dengan suara manja dan sebari menatap wajah kak maya yang opal mirip artis Han Ji Eun gitu.
“ Bukan gitu May, apa lo perrnah telpon dia atau menayakan dia ke temen-temen dia yang ada di Jawa?”.
“ Belum kak, lagian gengsi dong kak masa cewek dulu yang hubungin cowok. Soal Itu mah tidak ada di kamus Maya”.
“ Sifat lo itu tidak pernah berubah ya May, lo itu tetep egois dan tidak pernah dewasa dalam menghadapi masalah. Lo itu orangnya perpeksionis, dan keras kepala. Dihadapan temen-temen lo itu kuat seolah hidupmu tanpa maslah tapi ternyata lo itu rapuh May. Coba dech sekarang lo telpon dia baik-baik. Jangan cuma sms atau BBM, biar semuanya jelas dan lo jadi tenang”.
* * *
Setelah aku fikir-fikir benar juga apa-apa yang dikatakan kak Citra. Aku ini tidak dewasa, aku ini egois and bla bla dech. Kakaku memang cerewet melebihi bundaku. Namun, aku bingun harus bagaimana memulainya dan harus baerkata apa, selama 24 jam aku memikirkan apa yang harus aku katakan. Kini telpon rumah sudah ku genggam, nomor telpon dia telah siap ku pijit. Do you know guys, hati aku dag dig dug begitu kencang tanganku dingin sekali, keringan dingin membasahi sekujur tubuhku. Bisa dibilang aku demam telpon biasanyakan orang itu demam panggung. Rasa mulas menghampiriku pokoknya semuanya campur aduk jadi satu. Perlahan aku dijit nomor cantik dia 08211811xxxx. Ku tarik napas perlahan dari sebarng sana tidak ada jawaban yang ada malah operator berkata:
” Nomor yang anda putar salah, cobalah beberapa saat lagi”.
Ya tuhan kemanakan dia perginya, ataukah dia sakit. Rasa khawatir berlebih menghampiriku. Kucoba berulang-ulang hubungu dia, ku tekan tombol Radial berulang kali, namun tetap saja jawabanya sepeti itu. Kak Citra sedari tadi memperhatikanku, kebetulan malam itu dia sedang bikin deadline berita buat dikirim via emali.Tanpa aku sadari air mata ini jatuh membasahi pipiku yang beresih putih dan berisi, memang aku ini tidak secantik kakaku yang berkulit putih dan bernata sipit.
“Lo, kenapa nagis lagi May?”. Tanya kak Cita sebari  datang menghampiriku yang tanpa aku sadar telah berdiri mematung dengan muka berlinangan air mata dan kusut.
“ Nomor dia tidak aktif kak,,,”. Jawabku dibarengi tangisan keras yang memecahkan kesunyian di malam hari. Kebetulan papih dan mamih sedang pergi kelaur kota, sehingga aku bebas untuk mengekspresikan diriku.
“Nomor siapa May?, Nomor Fadil maksud kamu?”.
Aku hanya bisa menggangguk. Kak Citra hanya geleng-geleng kepala, dia tak berkata apapun.
***
Ku lalui hari-hariku dengan canda tawa yang ku paksakan, karena aku tidak mau melihat kak Citra resah memikirkan kodisiku. Perlahan aku mulai melupakan  kenangan manis bersama Fadil, ku hapus fhoto-fhoto dia, sms dari dia dan semuanya yang bersangkutan dengan Fadil. Hanya satu yang tidak ku hapus yaitu rasa sayang dan cintaku padanya masih terkubur rapih dalam hatiku yang dalam. Nasihat dia dan perintah dia masih terukir rapih di otakku. Karena dia inspirator hidupku. Fadil oranggya rajin, hardworker, soleh dan yang pastinya dia itu berkulit sawo matang, matanya hitam dan tajam, tutur katanya yng sopan tapi medok jawa hanya satu kekurangan dia, dia itu kalau bicara kecepatan. Tapi itulah yang aku rindukan darinya.
* * *
Enam bulan berlalu tanpa kehadirannya dan tanpa kabar apapun darinya. Kini aku sudah mulai biasa hidup tanpanya walau terkesan aku selalu menyendiri dan tidak terlalu berbaur dengan teman-temanku. Sore itu cuaca tidak begitu cerah, aku duduk di beranda rumah bareng adeku Riyan yang baru duduk dibangku kelas 5 SD. Suara bel rumah berbunyi dengan nyaring. Kubuka pitu gerbang rumah dengan malas dan ternyata pak poslah  yang datang. Dia memberiku satu surat. Surat itu dimaksudkan untukku, tak berapa lama pak pos pamit untuk pergi.
Tanpa pikir panjang ku buka surat itu dengan membabi buta, surat itu berasal dari Yogya tepatnya Fadil Akbar yang selama ini ku rindukan. Inti dari surat tersebut dia tidak mau menyakitiku, dan dia tidak mau menggangu kuliahku. Menurut dia kalau sudah waktunya dia akan datang dan bicara secara langsung tanpa lewat telpon atau BBM saja. Bunyi  kalimatnya seperti ini:
Maaf banget neng selama ini aa tidak mengirimu kabar apapun. A, yakin kalau sudah waktunya kita pasti bisa bertemu dan bicara secara langsung tidak harus telpon atau apalah. Assalamua’alikum ;-), neng semoga sukses dan bisa meraih apap-apa yang neng inginkan selama ini, do’a aa selalu menyertaimu”.
Astaga, segitunya dia memperlakukanku, dia tidak mau menyakitiku tapi justuru ini sangat menyakitkan untukku. Memang selama ini kita selalu bertukar cerita mengenai kegiatan dan obsesi masing-masing. Karakter kita sangat beda, dan memang susah untuk disatukan. Namun walau begitu aku akan selalu menunggunya.





Jumat, 04 Mei 2012

SIAPAUN DIA

Siapapun Dia 

Walau selama bertahun-tahun ini saya menyendiri alias jomblo, tapi saya yakin suatu saat nanti tuhan akan memepertemukan saya dengan dia. "KALAU SUDAH WAKTUNYA, SEMUANYA AKAN TERASA INDAH..." Teh Defa said

Siapapun dia, pasti telah disiapkan oleh allah yang telah menciptakan mahluknya berpasangan. semoga dia baik, soleh, dan yang pasti dia mapan. hehehe.

Namun, dia harus mencinatai saya apa adanya. Ya, allah kalau sudah waktunya tunjukanlah dia kehadapan saya . Amien....

TUJHE ME RAB DIKHTA HAI

RAB NE BANA DIJODI


Gue dan Hidup Gue

Sakit banget hati gue, ketika orang memnagng gue tak bisa berbuat apa2. Emangnya siapa lo yang suka ngatur hidup gue.
Gue benci semuanya, hidup gue tak pernah ada kebebasann yang berarti.
harusnya lo tahu siapa yang menjalani hidup ini, gue yakin bisa ngejalanai hidup yang gue lakuin ini. karena gue yang akan bertanggung jawab dengan smua ini.
Gue gak suka, kalau seseorang hanya memanfaatkan gue.
Gue benci teman yang hanya membutuhkan gue ketika dia butuh gue saja.
Gue bakal buktiin sama semua orang kalau gue itu bisa.
Ya, bisa. gue yakin bisa.



Buat temen gue, gue maafin ko apa yang telah lo lakuin sama gue.
Lo, gak usah mikirin hidup gue, Pikirin aza hidup lo sendiri, gue juga tahu apa yang haus gue perbuat.
Lo, boleh lupain gue, anggap saja kita tidak pernah kenal.
Lo, bisa hidup dengan tenang karena lo gak kenal sama gue.
BAY,,,, MASA LALU.......

Senin, 30 April 2012

gadis kretek



1.      Synopsis
Gadis Kretek
            Jeng yah! Jeng Yah! The curses name that always called by Mr. Raja. His son, Lebas, Karim, and  Tegar confused what should they do. His wife, the woman who take care of Mr. Raja while he was sick is so angry to hear to that bloody name. The name who was taken their prosperity from its passion. The name that always bring memory with their sorrow.
            The name that bring their son take a journey to the palm of Java historical moment. The name that force three brothers acquire their family company’s secret. It’s not just about love, affair, and cigarettes. It’s also about passion, willing, taste, and business struggle. Will time reveal the secret of Jeng Yah’s name?










2.      Format Analysis
2.1              Plot
                        This story using forward-backward-forward plot. We believe that Ratih Kumala was deliberate to using this in order to made this story more interesting and made the reader.
                      The reader could also suspect what kind of scene that really happened in the past with including other scenes which revealed sistematically by Ratih Kumala. Indonesian history about colonize and independence were included into this novel and covered with continous and connected every single scene to be an interesting plot.

2.2              Character and Characterization                                                                                                                       
                                                                                                                                                    Lebas: he’s a free man, he does whatever he wants, he doesn’t want to be someone that his  father want him to be like his brothers. He is a spontaneous man. But he care to his family.

Tegar: he’s kind of man who take everything seriously, he’s sensitive, he’s character is contradiction with his little brother, Lebas that’s why they always fight each other. But he’s so obedient to his parents even he is cannot express his own interest.

Karim: he’s low profile and mature man, he’s smart, he’s always be a mediator between Lebas and Tegar.

Soeraja: he’s a hard worker, he’s kind of man who cannot fulfill his promise, he’s a thief, he doesn’t know what is the meaning of thanks, and he’s liar.

Dasiyah (Jeng Yah): she’s a hard worker, smart, obedient, innovative, and loyal woman.

Rukayah: she’s  followers her sister and she is kind woman.

Soedjagad: He’s a plagiator and he’s a liar, and he’s coward.

Idroes Moeria: he’s a hard worker, loyal, jealous man and loves his wife so much.

Roemaisa: she’s smart, loyal, hard worker, lovely, respectful, friendly,  she’s tough and patient woman.

2.3               Theme
                            Business competition and  identity searching
2.4               Setting
·         Jakarta
·         M city
·         Cirebon
·         Magelang
·         Kudus
·         Yogyakarta
·         Surabaya
·         Temanggung
·         USA


2.5              Point of View
This novel is using first person’s point of view

2.6               Figures of Speech
This novel is using daily languange and combined with Javanese languange.

2.7       Message
                      Always keep and fulfill promise to anyone, never trust anybody with your whole heart. Plagiatism is forbidden,  innovation and hardworking always be the way to reach success. Never stop believing with what you believe in.
          










3.      Interpretation
Dennis’s judge: Gadis Kretek is the best novel i’ve ever read. It has a strong conflict, difficulity comprehension of love.