Senin, 02 Desember 2013

Bandung Kota Sampah



BANDUNG KOTA SAMPAH
Oleh: Papa Samrotul Puadah
Sastra Inggris, Universitas Pasundan Bandung
Disetiap sudut kota, desa ataupun dimana saja pasti kita akan menemukan sebuah pasar, terutama pasar tradisional. Di kota Bandung ini yang namanya pasar tradisonal sangatlah menjamur. Sebut saja pasar Andir dan Ciroyom yang tempatnya tidak jauh dari rumah saya. Hanya cukup mengeluarkan uang Rp.1.000,- sudah sampai ke pasar Andir  yang terkenal dengan pasar malam hinga pagi hari . Para pedagang dari sore hari sudah bersiap-siap untuk menjajankan dagangannya. Setiap sore pula saya menyaksikan para pedagang itu membereskan dan memberesihkan dagangan mereka di pinggir-pinggir jalan raya. Khususnya sayuran seperti kangkung, bayam, kol, wortel, dan lain sebagainya. Sayuran-sayuran tersebut biar rapih dan terlihat segar di celupkan kedalam ember besar berisi iri. Dan sesekali sayuran-sayuran itu di ciprati air. Pemandangan yang sungguh indah dimata saya.
Malampun datang para pembeli mulai berdatangan untuk melakukan transaksi antara pembeli dan pedangangpun berlangsung. Saling tawar menawar harga be srlangsung suasana pasarpun semakain ramai, satu sama lain saling bersahutan. Dari sudut satu ada pedagang tempe dan tahu Cibuntu yang menyalakan musik dangdut sangat kerasa semakin ramailah pasar Andir di malam yang dingin.
Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya, namun suasana jual beli masih berjalan seperti tadi malam. Hanya saja para pedagang ini membuat jalanan macet, karena mereka berjualan di jalan yang seharusnya di gunakan oleh roda dua dan empat. Macetpun tidak terelakkan lagi hanya satu ruas jalan yang disisakan oleh para pedagang sungguh ironis, namun ini sudah menjadi budaya di kalangan masyarakat kita.
Jam 09.00 WIB para pedagang sudah tiada. Mereka pulang ke rumah masing-masing yang entah dimana rumah mereka. Namun sisa jualan mereka tidak ikut pulang bersama mereka. Sampah-sampah itu ditinggal begitu saja dan tidak mereka hiraukan. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikan. Tumpukan daun jagung, kulit kelapa,  kol busuk sisa dijual, tumpukan sampah plastik pun tidak luput menyatu bersama sampah-sampah organik lainya. Para pedang itu seolah tidak peduli dengan pasilitas umum khususnya jalan raya yang telah mereka kotori dan seolah tidak merasa risih. Mereka menganggap membuang sampah sembarangan itu hal biasa bahkan lumrah.Miris.
 Namun para pemberesih jalan tidak tinggal diam, mereka perlahan memberesihkan tumpukan-tumpak sampah dan menyapunya secara perlahan pula. Tapi tetap saja mereka tidak bisa berbuat banyak hanya sebagaian yang bisa mereka beresihkan yang lainnya tetap saja menumpuk begitu saja di pinggir jalan. Bahkan sebagian terinjak motor dan mobil sehingga sampah itu melekat di jalan lalu mengeluarkan cairan hitam pekat dan berbau.  Sehingga pinggiran jalan yang seharusnya rapih nan asri ini sebaliknya. Dipinggiran jalan yang terlihat tumpukan sampah yang menggunung, beraroma tidak sedap dan cairan hitam pekat perlahan mengalir begitu saja. Setiap hari minggu tumpukan sampah itu menumpuk bahkan menyerupai gunung Ciremai. Apalagi petugas keberesihan libur sampahpun tidak terperhatikan. Pasar sampahpun terjadi.  Saya selalu berandai-andai kota ini beresih seperti kota kelahiranku. Bandung saat ini terkenal dengan sebutan ‘‘kota sampah bukan kota kembang lagi”. Ironis.
Coba saja para pedagang ini sadar akan bahaya buang sampah sembarang itu adalah hal yang buruk. Namun bukan hanya para pedagang yang harus sadar diri namun seluruh masyarakat kota Bandung. Atau saja para pemerintah yang berkecimpung dalam menangani keberesihan kota itu harus lebih tegas pada seluruh warganya dan menyediakan tempat pembuangan sampah yang banyak dan layak. Kalau untuk para pedagang kaki lima atau yang berjualan dipasar harus sadar pula akan keberesihan. Sisa jualan mereka dan sampahnya dibawa pulang ke rumah masing-masing lagi pula apa susahnya? Bukan hanya uang yang mereka kantongi namun sampah milik merekapun harus di kantongi pula. Sampah-sampah tersebut bisa di masukan ke dalam karung atau plastik bekas bawaan dagangan tadi. Sehingga suasa pasar itu akan beresih dan kondusif.
Memang antara pemerintah dan masyarakat itu harus saling membutuhkan dan membatu satu sama lain. Tidak saling egois dan memikirkan kepentingan pribadi. Budaya buang sampah sembarang ini kayanya sudah menjadi kebiasaan biasa kalau kata bahasa sundanya “ ngeugeus sakulit sadaging”. Jadi susah untuk di pisahkan. Saya sering temukan dan melihat semua ini bukan pasar makanan ataupun sayuran hiajau, namun pasar sampah yang sangat mengerikan. Dari sikap manusia yang buang sampah sembarangan dan tidak peduli lingkungan bahaya banjirpun beberapa tahun kedepan akan menghantui kehidupan sekitar. Rusaklah bumi ini oleh manusia itu sendiri.
                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar