Selasa, 23 Oktober 2012

cerpen baru gue


Bandung, 18 Juni 12
KISAHKU
Oleh : Papa Samrotul Puadah
Malam ini terasa sepi, sesepi hatiku yang tidak henti-hentinya memikirkan dia nan jauh disana. Aneh sudah empat hari ini dia tidak memberiku kabar, atau sms sekalipun, hati ini bertanya-tanya apa salahku padanya?. Aku tahu dia bukan siapa-siapa tapi nama dia telah terukir di dalam hatiku yang paling dalam. Satu tahun aku kenal dengannya, dan kini dia pergi entah kemana.
“ Woy, bangun dong ,,, tidur mulu malu tuh sama ayam!” kakakku berteriak-teriak membangunkanku yang sedari tadi hanya diam bertemankan selimut warna merah kesayanganku. Kakak kira aku belum bangun padahal dari jam 4 pagipun aku sudah bangun karena aku ingat dia yang selalu membangunkanku untuk solat malam.
“ iya kak, Maya tuh dari tadi juga sudah bangun, cuman males saja keluar kamar”. Jawabku sebari membuka pintu kamar dengan malas-malasan.
“ Ya, ampun May  gue kira lo sakit, biasanya lo yang bangunin kakak, ya sudah kakak teriak-teriak manggil lo. Emangnya lo kenapa? kakak perhatiin lo murung terus seperti tak ada gairah untuk hidup?”.
Kakak ku yang satu ini memang gaya bicara betawi gitu, padahal kami asli orang sunda, namun kakakku yang bernama Citra itu sudah lama tinggal di Jakarta dia bekerja di salasatu stasiun televisi swasta ternama di Jakarta. Kak Citra merupakan kakakku yang paling dekat denganku, apapun yang terjadi  denganku dia pasti tahu, umurku hanya terpaut 5 tahun. Aku hanya diam tidak memnjawab pertanyaan kakaku yang bertubi-tubi.
“ May, lo mau ikut gak nonton, kebetulan hari ini ada film bagus, kita kan sudah lama tidak nonton bareng?”. Ajaknya sebari duduk diatas kasur kesayanganku.
“ Maaf ya kak,  untuk hari ini Maya gak bsa ikut soalnya Maya lagi males kemana-mana, Maya hanya ingin berdiam diri di rumah tanpa ada orang yang ganggu Maya, sekali lagi maaf banget ya kak”. Jawabku dengan nada memelas di tambah ekspresi muka menghawatirkan.
“ Ya, sudah kalau lo gak mau ikut mah kakak tidak maksa kok. Tapi kalau lo punya masalah cerita dong sama kakakmu yang cantik ini”.
“Iya kak, pasti Maya cerita tapi nanti yah!?”.
“ iya, sip awas loh kakak tunggu”.
* * *
Apa mungkin aku telah melukai hatinya, dengan jawaban-jawaban yang membuat dia berfikir kembali untuk mengenal lebih dekat tentangku. Entahlah aku tidak tahu. Tapi seingatku dia pernah menayakan tentang apa golongan darahku. Aku jawab bahwa golongan darahku A, sedangkan dia B. Antara A dan B itu sifatnya sangat bertolak belakang dan terkesan bagaikan langit dan bumi. Aku akan selalu ingat nasihat-nasihat yang dia sampaikan padaku, dan tentang keinginan dia untuk pergi ke Eropa. Walau bagaimanapun dia adalah sosok laki-laki yang telah singgah di hatiku.
“ May, ini pesanan lo makan, nanti keburu dingin so, gak enak dech!”. Kakak ku telah pulang dari acara nontonnya, sedangkan aku dari tadi  masih berdiam diri di kamar.
“Iya kak, bentar nanti Maya turun”.
Kakak membawakan mie ayam Inochi kesukaanku.  Memang dalam hidupku tiada hari tanpa mie ayam. Mie ayam merupakan sala satu favorit makannanku.
“ Cepet May, turun entar malah di embat sama si ade, diakan rakus banget makannya”.
* * *
“ May, lo jangan murung gitu dong, kakak kangen canda-tawamu May. Lo kan orangnya tidak pernah diam, sifat lo itu bawel and cerewet, tapi selama 2 minggu ini lo hanya diam, untuk mengeluarkan suarapun lo males banget. Lo kenapa sih May?”.
Aku hanya diam, dan memggelengkan kepala ini yang terasa berat sekali seolah-olah ada beban berton-ton beratnya. Setelah kak Citra membujukku untuk cerita apa yang terjadi sebernya denganku. Maka ku ceritakan semuanya apa yang terjadi padaku saat ini pada kak Citra. Kakaku hanya diam dan sesekali menganggukan kepalanya tanda dia mengerti apa yang ku ceritakan.
“ Ya ampun May, jadi selama dua minggu ini lo kaya gini, karena gara-gara lo mikirin lelaki yang selama ini lo suka. Astaga naga Maya,,, Maya”. Tangannya sebari mengelus-ngelus rambutku dengan penuh kasih sayang.
“Tuh kan kakak mah pasti ujung-ujungnya ngeledekin Maya”. Dengan suara manja dan sebari menatap wajah kak maya yang opal mirip artis Han Ji Eun gitu.
“ Bukan gitu May, apa lo perrnah telpon dia atau menayakan dia ke temen-temen dia yang ada di Jawa?”.
“ Belum kak, lagian gengsi dong kak masa cewek dulu yang hubungin cowok. Soal Itu mah tidak ada di kamus Maya”.
“ Sifat lo itu tidak pernah berubah ya May, lo itu tetep egois dan tidak pernah dewasa dalam menghadapi masalah. Lo itu orangnya perpeksionis, dan keras kepala. Dihadapan temen-temen lo itu kuat seolah hidupmu tanpa maslah tapi ternyata lo itu rapuh May. Coba dech sekarang lo telpon dia baik-baik. Jangan cuma sms atau BBM, biar semuanya jelas dan lo jadi tenang”.
* * *
Setelah aku fikir-fikir benar juga apa-apa yang dikatakan kak Citra. Aku ini tidak dewasa, aku ini egois and bla bla dech. Kakaku memang cerewet melebihi bundaku. Namun, aku bingun harus bagaimana memulainya dan harus baerkata apa, selama 24 jam aku memikirkan apa yang harus aku katakan. Kini telpon rumah sudah ku genggam, nomor telpon dia telah siap ku pijit. Do you know guys, hati aku dag dig dug begitu kencang tanganku dingin sekali, keringan dingin membasahi sekujur tubuhku. Bisa dibilang aku demam telpon biasanyakan orang itu demam panggung. Rasa mulas menghampiriku pokoknya semuanya campur aduk jadi satu. Perlahan aku dijit nomor cantik dia 08211811xxxx. Ku tarik napas perlahan dari sebarng sana tidak ada jawaban yang ada malah operator berkata:
” Nomor yang anda putar salah, cobalah beberapa saat lagi”.
Ya tuhan kemanakan dia perginya, ataukah dia sakit. Rasa khawatir berlebih menghampiriku. Kucoba berulang-ulang hubungu dia, ku tekan tombol Radial berulang kali, namun tetap saja jawabanya sepeti itu. Kak Citra sedari tadi memperhatikanku, kebetulan malam itu dia sedang bikin deadline berita buat dikirim via emali.Tanpa aku sadari air mata ini jatuh membasahi pipiku yang beresih putih dan berisi, memang aku ini tidak secantik kakaku yang berkulit putih dan bernata sipit.
“Lo, kenapa nagis lagi May?”. Tanya kak Cita sebari  datang menghampiriku yang tanpa aku sadar telah berdiri mematung dengan muka berlinangan air mata dan kusut.
“ Nomor dia tidak aktif kak,,,”. Jawabku dibarengi tangisan keras yang memecahkan kesunyian di malam hari. Kebetulan papih dan mamih sedang pergi kelaur kota, sehingga aku bebas untuk mengekspresikan diriku.
“Nomor siapa May?, Nomor Fadil maksud kamu?”.
Aku hanya bisa menggangguk. Kak Citra hanya geleng-geleng kepala, dia tak berkata apapun.
***
Ku lalui hari-hariku dengan canda tawa yang ku paksakan, karena aku tidak mau melihat kak Citra resah memikirkan kodisiku. Perlahan aku mulai melupakan  kenangan manis bersama Fadil, ku hapus fhoto-fhoto dia, sms dari dia dan semuanya yang bersangkutan dengan Fadil. Hanya satu yang tidak ku hapus yaitu rasa sayang dan cintaku padanya masih terkubur rapih dalam hatiku yang dalam. Nasihat dia dan perintah dia masih terukir rapih di otakku. Karena dia inspirator hidupku. Fadil oranggya rajin, hardworker, soleh dan yang pastinya dia itu berkulit sawo matang, matanya hitam dan tajam, tutur katanya yng sopan tapi medok jawa hanya satu kekurangan dia, dia itu kalau bicara kecepatan. Tapi itulah yang aku rindukan darinya.
* * *
Enam bulan berlalu tanpa kehadirannya dan tanpa kabar apapun darinya. Kini aku sudah mulai biasa hidup tanpanya walau terkesan aku selalu menyendiri dan tidak terlalu berbaur dengan teman-temanku. Sore itu cuaca tidak begitu cerah, aku duduk di beranda rumah bareng adeku Riyan yang baru duduk dibangku kelas 5 SD. Suara bel rumah berbunyi dengan nyaring. Kubuka pitu gerbang rumah dengan malas dan ternyata pak poslah  yang datang. Dia memberiku satu surat. Surat itu dimaksudkan untukku, tak berapa lama pak pos pamit untuk pergi.
Tanpa pikir panjang ku buka surat itu dengan membabi buta, surat itu berasal dari Yogya tepatnya Fadil Akbar yang selama ini ku rindukan. Inti dari surat tersebut dia tidak mau menyakitiku, dan dia tidak mau menggangu kuliahku. Menurut dia kalau sudah waktunya dia akan datang dan bicara secara langsung tanpa lewat telpon atau BBM saja. Bunyi  kalimatnya seperti ini:
Maaf banget neng selama ini aa tidak mengirimu kabar apapun. A, yakin kalau sudah waktunya kita pasti bisa bertemu dan bicara secara langsung tidak harus telpon atau apalah. Assalamua’alikum ;-), neng semoga sukses dan bisa meraih apap-apa yang neng inginkan selama ini, do’a aa selalu menyertaimu”.
Astaga, segitunya dia memperlakukanku, dia tidak mau menyakitiku tapi justuru ini sangat menyakitkan untukku. Memang selama ini kita selalu bertukar cerita mengenai kegiatan dan obsesi masing-masing. Karakter kita sangat beda, dan memang susah untuk disatukan. Namun walau begitu aku akan selalu menunggunya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar