Bandung,
18 Juni 12
KISAHKU
Oleh : Papa Samrotul Puadah
Malam ini terasa sepi, sesepi hatiku yang tidak henti-hentinya
memikirkan dia nan jauh disana. Aneh sudah empat hari ini dia tidak memberiku
kabar, atau sms sekalipun, hati ini bertanya-tanya apa salahku padanya?. Aku tahu dia
bukan siapa-siapa tapi nama dia telah terukir di dalam hatiku yang paling
dalam. Satu tahun aku kenal dengannya, dan kini dia pergi entah kemana.
“ Woy, bangun dong ,,, tidur mulu malu tuh sama ayam!” kakakku
berteriak-teriak membangunkanku yang sedari tadi hanya diam bertemankan selimut
warna merah kesayanganku. Kakak kira aku belum bangun padahal dari jam 4
pagipun aku sudah bangun karena aku ingat dia yang selalu membangunkanku untuk
solat malam.
“ iya kak, Maya tuh dari tadi juga sudah bangun, cuman males saja
keluar kamar”. Jawabku sebari membuka pintu kamar dengan malas-malasan.
“ Ya, ampun May gue kira lo
sakit, biasanya lo yang bangunin kakak, ya sudah kakak teriak-teriak manggil
lo. Emangnya lo kenapa? kakak perhatiin lo murung terus seperti tak ada gairah
untuk hidup?”.
Kakak ku yang satu ini memang gaya bicara betawi gitu, padahal kami
asli orang sunda, namun kakakku yang bernama Citra itu sudah lama tinggal di
Jakarta dia bekerja di salasatu stasiun televisi swasta ternama di Jakarta. Kak
Citra merupakan kakakku yang paling dekat denganku, apapun yang terjadi denganku dia pasti tahu, umurku hanya terpaut
5 tahun. Aku hanya diam tidak memnjawab pertanyaan kakaku yang bertubi-tubi.
“ May, lo mau ikut gak nonton, kebetulan hari ini ada film bagus,
kita kan sudah lama tidak nonton bareng?”. Ajaknya sebari duduk diatas kasur
kesayanganku.
“ Maaf ya kak, untuk hari
ini Maya gak bsa ikut soalnya Maya lagi males kemana-mana, Maya hanya ingin
berdiam diri di rumah tanpa ada orang yang ganggu Maya, sekali lagi maaf banget
ya kak”. Jawabku dengan nada memelas di tambah ekspresi muka menghawatirkan.
“ Ya, sudah kalau lo gak mau ikut mah kakak tidak maksa kok. Tapi
kalau lo punya masalah cerita dong sama kakakmu yang cantik ini”.
“Iya kak, pasti Maya cerita tapi nanti yah!?”.
“ iya, sip awas loh kakak tunggu”.
* * *
Apa mungkin aku telah melukai hatinya, dengan jawaban-jawaban yang
membuat dia berfikir kembali untuk mengenal lebih dekat tentangku. Entahlah aku
tidak tahu. Tapi seingatku dia pernah menayakan tentang apa golongan darahku.
Aku jawab bahwa golongan darahku A, sedangkan dia B. Antara A dan B itu
sifatnya sangat bertolak belakang dan terkesan bagaikan langit dan bumi. Aku
akan selalu ingat nasihat-nasihat yang dia sampaikan padaku, dan tentang
keinginan dia untuk pergi ke Eropa. Walau bagaimanapun dia adalah sosok
laki-laki yang telah singgah di hatiku.
“ May, ini pesanan lo makan, nanti keburu dingin so, gak enak
dech!”. Kakak ku telah pulang dari acara nontonnya, sedangkan aku dari tadi masih berdiam diri di kamar.
“Iya kak, bentar nanti Maya turun”.
Kakak membawakan mie ayam Inochi kesukaanku. Memang dalam hidupku tiada hari tanpa mie
ayam. Mie ayam merupakan sala satu favorit makannanku.
“ Cepet May, turun entar malah di embat sama si ade, diakan rakus
banget makannya”.
* * *
“ May, lo jangan murung gitu dong, kakak kangen canda-tawamu May.
Lo kan orangnya tidak pernah diam, sifat lo itu bawel and cerewet, tapi
selama 2 minggu ini lo hanya diam, untuk mengeluarkan suarapun lo males banget.
Lo kenapa sih May?”.
Aku hanya diam, dan memggelengkan kepala ini yang terasa berat
sekali seolah-olah ada beban berton-ton beratnya. Setelah kak Citra membujukku
untuk cerita apa yang terjadi sebernya denganku. Maka ku ceritakan semuanya apa
yang terjadi padaku saat ini pada kak Citra. Kakaku hanya diam dan sesekali
menganggukan kepalanya tanda dia mengerti apa yang ku ceritakan.
“ Ya ampun May, jadi selama dua minggu ini lo kaya gini, karena
gara-gara lo mikirin lelaki yang selama ini lo suka. Astaga naga Maya,,, Maya”.
Tangannya sebari mengelus-ngelus rambutku dengan penuh kasih sayang.
“Tuh kan kakak mah pasti ujung-ujungnya ngeledekin Maya”. Dengan
suara manja dan sebari menatap wajah kak maya yang opal mirip artis Han Ji Eun
gitu.
“ Bukan gitu May, apa lo perrnah telpon dia atau menayakan dia ke
temen-temen dia yang ada di Jawa?”.
“ Belum kak, lagian gengsi dong kak masa cewek dulu yang hubungin
cowok. Soal Itu mah tidak ada di kamus Maya”.
“ Sifat lo itu tidak pernah berubah ya May, lo itu tetep egois dan
tidak pernah dewasa dalam menghadapi masalah. Lo itu orangnya perpeksionis, dan
keras kepala. Dihadapan temen-temen lo itu kuat seolah hidupmu tanpa maslah
tapi ternyata lo itu rapuh May. Coba dech sekarang lo telpon dia baik-baik.
Jangan cuma sms atau BBM, biar semuanya jelas dan lo jadi tenang”.
* * *
Setelah aku fikir-fikir benar juga apa-apa yang dikatakan kak
Citra. Aku ini tidak dewasa, aku ini egois and bla bla dech. Kakaku
memang cerewet melebihi bundaku. Namun, aku bingun harus bagaimana memulainya
dan harus baerkata apa, selama 24 jam aku memikirkan apa yang harus aku
katakan. Kini telpon rumah sudah ku genggam, nomor telpon dia telah siap ku
pijit. Do you know guys, hati aku dag dig dug begitu kencang tanganku
dingin sekali, keringan dingin membasahi sekujur tubuhku. Bisa dibilang aku
demam telpon biasanyakan orang itu demam panggung. Rasa mulas menghampiriku
pokoknya semuanya campur aduk jadi satu. Perlahan aku dijit nomor cantik dia
08211811xxxx. Ku tarik napas perlahan dari sebarng sana tidak ada jawaban yang
ada malah operator berkata:
” Nomor yang anda putar salah, cobalah beberapa saat lagi”.
Ya tuhan kemanakan dia perginya, ataukah dia sakit. Rasa khawatir
berlebih menghampiriku. Kucoba berulang-ulang hubungu dia, ku tekan tombol Radial
berulang kali, namun tetap saja jawabanya sepeti itu. Kak Citra sedari tadi
memperhatikanku, kebetulan malam itu dia sedang bikin deadline berita buat
dikirim via emali.Tanpa aku sadari air mata ini jatuh membasahi pipiku yang
beresih putih dan berisi, memang aku ini tidak secantik kakaku yang berkulit
putih dan bernata sipit.
“Lo, kenapa nagis lagi May?”. Tanya kak Cita sebari datang menghampiriku yang tanpa aku sadar
telah berdiri mematung dengan muka berlinangan air mata dan kusut.
“ Nomor dia tidak aktif kak,,,”. Jawabku dibarengi tangisan keras
yang memecahkan kesunyian di malam hari. Kebetulan papih dan mamih sedang pergi
kelaur kota, sehingga aku bebas untuk mengekspresikan diriku.
“Nomor siapa May?, Nomor Fadil maksud kamu?”.
Aku hanya bisa menggangguk. Kak Citra hanya geleng-geleng kepala,
dia tak berkata apapun.
***
Ku lalui hari-hariku dengan canda tawa yang ku paksakan, karena aku
tidak mau melihat kak Citra resah memikirkan kodisiku. Perlahan aku mulai
melupakan kenangan manis bersama Fadil,
ku hapus fhoto-fhoto dia, sms dari dia dan semuanya yang bersangkutan dengan
Fadil. Hanya satu yang tidak ku hapus yaitu rasa sayang dan cintaku padanya
masih terkubur rapih dalam hatiku yang dalam. Nasihat dia dan perintah dia
masih terukir rapih di otakku. Karena dia inspirator hidupku. Fadil oranggya
rajin, hardworker, soleh dan yang pastinya dia itu berkulit sawo matang,
matanya hitam dan tajam, tutur katanya yng sopan tapi medok jawa hanya satu
kekurangan dia, dia itu kalau bicara kecepatan. Tapi itulah yang aku rindukan
darinya.
* * *
Enam bulan berlalu tanpa kehadirannya dan tanpa kabar apapun
darinya. Kini aku sudah mulai biasa hidup tanpanya walau terkesan aku selalu
menyendiri dan tidak terlalu berbaur dengan teman-temanku. Sore itu cuaca tidak
begitu cerah, aku duduk di beranda rumah bareng adeku Riyan yang baru duduk
dibangku kelas 5 SD. Suara bel rumah berbunyi dengan nyaring. Kubuka pitu
gerbang rumah dengan malas dan ternyata pak poslah yang datang. Dia memberiku satu surat. Surat
itu dimaksudkan untukku, tak berapa lama pak pos pamit untuk pergi.
Tanpa pikir panjang ku buka surat itu dengan membabi buta, surat
itu berasal dari Yogya tepatnya Fadil Akbar yang selama ini ku rindukan. Inti
dari surat tersebut dia tidak mau menyakitiku, dan dia tidak mau menggangu
kuliahku. Menurut dia kalau sudah waktunya dia akan datang dan bicara secara
langsung tanpa lewat telpon atau BBM saja. Bunyi kalimatnya seperti ini:
“Maaf banget neng selama ini aa tidak mengirimu kabar apapun. A,
yakin kalau sudah waktunya kita pasti bisa bertemu dan bicara secara langsung
tidak harus telpon atau apalah. Assalamua’alikum ;-), neng semoga sukses dan
bisa meraih apap-apa yang neng inginkan selama ini, do’a aa selalu menyertaimu”.
Astaga, segitunya dia memperlakukanku, dia tidak mau menyakitiku
tapi justuru ini sangat menyakitkan untukku. Memang selama ini kita selalu
bertukar cerita mengenai kegiatan dan obsesi masing-masing. Karakter kita
sangat beda, dan memang susah untuk disatukan. Namun walau begitu aku akan
selalu menunggunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar