Senin, 5 maret 2012
Kisah liburan aye
Alhamdulilah kita bisa bercengrama lagi my diary, selama ini maafkan temanmu ini yang tidak mengisi hari-harimu dengan kisah hidup saya selama ini. selama sebulan ini banyak sekali pengalaman menarik yang tak kuceritakan padamu sobat. Pagi buta ini setelah solat tahajud saya akan menceritakan beberapa hal mengenai sepenggal cerita kehidupan saya.
Awal februari saya pulang kampung ke kampung halaman yaitu ke Cibolang, Cimanggu langkap lancar ciamis. Wih lengkap banget ya alaatnya. Itu adalah tempat dimana akua dibesarkan oleh ke orang tua saya dengan penuh kasih sayang. Namun saya disana hanya satu minggu karena libur UAS semeter ganjil itu cuman seminggu.
Saya dilahirkan di kampung yang jauh sekali dari keramain kota, yang selalu berkutat dengan kemacetan. Mamah saya pernah mengatakan bahwasanya ada salah seorang pemuda kampung yang menykai saya selama ini. Dan lelaki itu sudah dewasa usianya menginjak kepala tiga. Namun saya pernah bilang ke mamah bahwa saya tidak mau menikah sebelum cita-cita saya tercapai. Akhirnya pemuda itu oleh babah saya dijodohkan ke keponakan saya. Karena babah sudah tahu kalau saya ini tidak mau nikah muda. Alhamdulilah proses penjodohan berhasil antara lelaki itu dan keponakan saya saling suka, bahkan ada getar-getar asmara mungkin.
Pada hari kelima liburan UAS, saya dan keluarga mengntar keluarga lelaki itu untuk menghitabah keponakan saya. Proses lamaranpun sangat sederhana. Beda sekali dengan yang selama ini saya ketahui. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kiasan, yang menyerahkan lelaki itu kepada keponakan saya Ita adalah Babah. “Ita, aki datang kadieu teh arek nyancang maneh, supaya maneh teu kasasaha deui, terus maneh ku aki arek di ringkus di bulan rewah engke. Siap teu siap oge maneh kudu siapnya! “ kata-kata itu yang selalu saya ingat. Memang babah saya itu orangnya sangat pandai dalam berucap, dan babah adalah inspirator hidup saya selama ini.
Ketika babah mengatakan itu pada Ita, saya melihat kedua calon suami istri itu. Anehnya antara calon pengantin itu keduanya pada diam, dan duduk saling berjauhan. Mereka hanya diam tak berkata. Dlam batin saya berkata” owh, mungkin beginilah kalau pemuda dan perawan kampung itu di jodohkan, anta satu sama lainnya tidak ada perlawanan. Mereka setuju saja pa yang diingkan orang tua”. Saya salut sekali pada mereka. Saya harap semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang di harapkan babah.
Oh iya diary, kemarin tanggal satu marret saya dan diana pergi jalan-jalan ke Kepatihan Bandung, yaitu ke kings tiada lain untuk menonton Negeri 5 Menara, sungguh saya sangat menikmati film itu karena film itu mengingatkan saya pada masa-masa dipesantren dulu di Tasikmalaya. Memulainya saya menulis di pagi ini tiada lain terinspirasidari film tersebut. Yaitu semangat “Man Jadda wa jada” yang artiya siapa yang kerja keras maka dialah yang akan berhasil. Sungguh mantra itu yang membuat saya semangat untuk menjalani hidup ini lebih baik. Karena cita-cita saya ini ngin menjadi penulis dan presenter. Maaka mulai hari ini saya akan terus menulis mengenai kehidupan yang saya lami dan orang-orang yang ada disekitar sya. Karena dari film tersebut ada sebuah kata-kat yang saya selau ingat dan membuat hati saya berdesir yaitu ”taklukan dunia ini dunia dengan kata-kata”.
Selain itu cita-cita saya itu adalah menginjakan kaki kenegara eropa untuk sebuah festipal acara Aworld. Maka insya alah mulai pagi ini saya akan belajar lebih giar dan lebih kerja keras dengan usaha belajar lebih baik dari pada kemarin. MAN JADDA WA JADA. Semoaga alalah senantiasa meridoi apa-apa yang saya lakukan ini. semoga saja hidup ini penuh dengan barokah. Amin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar