Minggu, 08 Januari 2012
Jam 4 pagi saya bangun untuk melkukan solat tahajud seperti biasa, karena solat tahajud itu tempat saya curhata dengan sang maha pencipta. Anehnya mata ini rasanya ngantuk sekali, seolah-olah ada sesutaunya. Tanpa bnyak kata setelah membaca ayat suci al-quran saya tidur kembali, menunggu waktu subuh. Suara samar-samar di kamar sebelah, tak aneh lagi itu suara tanteku yang memanggil-mangil om dengan suara keras. Sayapun terbangun dari tidur. Beberapakali tanteku memanggil-manggil nama om tapi tak ada jawaban, saya tak tahu om ada dimana, tapi tak akan salah lagi pasti om lagi ke dapur menuju kamar mandi untuk wudlu subuh karena suara dan subuh telah berkumandang.
Saya merasa sangat keget ketika om menjawab panggilan tente dengan suara yang tak kelah keras, ada nada jengkel, dan itu sangat menakutkan untuk saya yang mendengarnya. Tantepun yang dikamarnya merasa marah dan takut mendengar jawaban om dari dapur menuju kamar. Tanpa lama perseturanpun dimulai. Jujur saja saya sangat taku sekali kalau mendengar orang bertengkar itu. apalagi tak ada diantara mereka yang mengalalah. Hampir saja tante pulang kerumahnya, kata bubar yang terdengar oleh telinga saya ini sangatlah menakutkan. Memang dalam menjalani behtera rumah tangga itu banyak sekali rintangannya. Dan itu sangat menakutkan.
Kini usia saya sudah menginjak ke 22, tapi saya selalu merasa takut untuk menjalani suatu hubungan istilah kerenya pacaran, tidak tahu kenapa? Apa mungkin karena orang disekelilingku banyak yang merasa dihianati oleh yang namanya lawan jenis, itu sangat menyakitkan. Yang ada dalam benak saya ini bukan hal-hal yang indah-indah dalam menjalani yang namanya pacaran atau bahtera rumah tangga, karena saya yakin disana itu banyak hal yang sangat menakutkan, kalau saja kita tidak bersikap dewasa dalam menyikapi semuanya. Saya takut mendapatkan pasangan yang gampang marah, istilahnya tidak dewasa.
Bukan sekali dua kali saya melihat pertengkaran dalam pernikahaan seperti yang dialami om saya. Bahkan banyak sekali orang yang bercerai karena diantara mereka tidak ada yang mau mengalah, dan itu sanagt disayangkan. Karena sebuah pernikahaan itu bukanlah sebuah permainan. Tanpa terasa air mata ini telah membasahi pipi sya ketika mengingat kejadian tadi pagi antara om dan tenteku, selalu saja dibenaku ada pertanyaan siapa sih yang salah diantara mereka?
Tapi ketika sang surya sudah mulai terdengar tante dan omku sudah baikan lagi, karena sehabis solat subuh dan rapih-rapih rumah om sya dan sodaraku pergi jalan-jalan pagi menyusuri bandung kota dengan jalan kaki. Sebari pergi kepasar untuk belanja membeli sayuran yang di perintahkaan om saya. Saya berharap semoga kejadiaan seperti tadi pagi tidak terulang lagi di rumah mungil milik om dan ketika saya berkeluarga nanti tidak ada kejadiaan seperti itu. thanks god atas hari yang penuh makna ini. :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar