Selasa, 27 Desember 2011

MY SHORT STORY 1


Kerangka karangan
Tema                           : Merindukan seseorang
Pikiran utama              : 1. Aku Seorang wanita yang merindukan sesorang
Pikiran penjelas           :     1.1  aku seorang mahasiswa  
                                          1.2 aku tinggal sendiri tanpa orang tua
Pikiran utama              : 1. Perjalananku menuju warung bi Minah.
Pikiran penjelas           :      2.1  namaku Maya
                                          2.2 hidupku penuh dengan kasih sayang orang tuaku.
Pikiran utama              : 1. Aku suka plat nomer berinisial Z
Pikiran penjelas           :     3.1 aku merindukanya
                                          3.2 hidupku tidak beraturan karena merindukanya.
Pikiran utama              : 1. Aku bangkit dari keterpurukan
                                         4.1 aku menunggunya.
Tokoh                          :      Maya pemeran utama
                                           Bi Minah, penjual nasi tegal langganan Maya
                                          Defa teman Maya
                                           Riza, seseorang yang dirindukan Maya
Latar                           : Kampus, Warteg, Jalan, Kamar kost, dan Mall.

“Z 6824 WV Im waiting you Here...”
Oleh : Papa Samrotul Puadah

Cuaca semakin hari semakin tak menentu, bahkan terkadang mereka tidak bersahabat dengan manusia, atau bahkan mereka benci dengan manusia, aku tak tahu. Tapi semakin hari aku merasa panas, dan hujan, tak menentu. Seperti halnya hari ini aku merasa semua badan ini  terbakar api karena panasnya kota Bandung yang kini aku alami. Sehingga  badanku mandi keringat padahal tadi pagi aku mandi. Ku coba pejamkan mata untuk beristirahat sejenak menghilangkan rasa lelah yang menyelimuti jiwa ini,  mataku tertidur tapi hati ini tak kunjung  tidur. Apa mungkin karena banyak pikiran dan perasaan yang menyelimuti hati ini sehingga aku tidak bisa tidur nyenyak seperti halnya temanku Defa. Dia itu kalau dah ketemu yang namanya bantal dia pasti akan tertidur dengan lelap ,beda halnya denganku, aku selalu merasa sulit untuk tidur.
Ku bangun dari tempat tidurku, ku raih jilbabku yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi dan apapun yang ku lakukan. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk mencari makan, karena tadi pagi aku hanya sarapan bala-bala dan gehu, itulah sarapanku sehari-hari. Ketika melangkahkan kaki aku mendengar deruan motor yang sangat kencang, seolah dia sang penguasa jalanan. Air mata ini tak karuan keluar begitu saja setiap kali aku mendengar deruan motor yang kencang, aku merasa ada sesuatu yang terjadi dengan hidupku, apa karena aku merindukan dia yang entah tahu dimana. Atau bahkan dia telah melupakanku, aku tak tahu, tapi mengapa hati ini tak bisa memungkiri kalau aku merindukannya. Ia, aku sangat merindukannya.
Oiya aku belum cerita siapa aku sebenarnya. Sobat,  panggil saja aku  Maya, karena itu adalah nama panggilan kesayangan orang tuaku. Akupun sangat menyukai nama ini , ya walaupun agak pasaran. Aku berasal dari daerah terpencil, yang jauh dari keramaian, apalagi hiruk pikuk kota. Kampungku begitu indah dan asri, jarang sekali kendaran bermotor berlalulalang. Hanya sesekali saja, apalagi roda empat jarang sekali lewat. Itupun hanya mobil yang mengangkut barang hasil panen petani yang akan dijual ke kota. Aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang orangtuaku, penuh dengan kasih sayang dan dimanja oleh mereka. Aku sangat bersyukur sekali mempunyai orang tua yang penuh dengan kasih sayang.
Setiap pagi aku terbangun oleh suara ayam yang berkokok, dan suara azan subuh yang membangunka seluruh mahluk yang tertidur di alam semesta ini, suara burung saling bersahutan, saling menyapa satu sama lainnya, dan sunguh sangat menakjubkan ketika sang surya mulai tebit dari upuk timur yang  kemerah-merahan.
” Ya allah aku merindukan kampung halamku yang begitu indah dan mempesona , apa lagi aku sangat meridukan ibu, bapakku aku rindu  senyumanya , canda dan tawa ketika nonton tv bersama, aku rindu akan guyonan adikku yang selalu membuatku tersenyum atau ketika dia membuatku  marah.” Dalam hatiku berucap.
Ketika aku teringat orang tua ku yang jauh disana air mata ini  mengalir begitu saja, tak bisa menolaknya, kubiarkan air mata ini membasahi seluruh pipiku yang kurang berisi ini. Maaafkan anakmu yang selama ini selalu merepotkanmu. Aku tidak bisa membalas semua yang telah engkau berikan kepadaku. Perlahan  kuseka air mata ini. Aku malu kalau ketahuan  bi Minah. Bi Minah orangnya sangat baik, dia asli Purwokerto tapi logat jawanya sudah hilang karena dia sudah lama tinggal di kota Bandung ini. Dia selalu tersenyum walaupun ada masalah. Selama dua tahun berlangganan denganya, aku belum pernah mendengar dia marah. Apapun dia sudah aagak tua tapi dia masih semangat  mencari napkah untuk menghirupi keluarganya. Dia sudah lama ditinggal suaminya, karena kecelakan motor.
“ Bi, seperti biasa nasi setengah,  tahu gorengya satu, dan sayur kangkung”. Ucapku pada bi Minah. Padahal tak usah aku katakan pun bi Minah sudah tahu apa yang akan aku beli. Itu sih hanya untuk basa basi belaka.
“Napa atuh neng, kaya yang punya masalah wae, cerita atuh ka bibi,” tanyanya sebari membungkus nasi pesananku.
“ nggak kenapa-napa kok bi” ujarku  sebari memberikan uang.
“ Ah, masa biasanya neng tidak seperti ini, malahan bibi baru kali ini liat neng Maya sedih begini”. Serunya sebali mencubit pipiku.
Tapi untuk kali ini aku tidak membalas gurauanya, aku hanya tersenyum kecut, dan pergi tanpa permisi.
Mungkin bi Minah merasa aneh dengan kelakuanku yang tidak seperti biasa. Padahal setiap aku ke warung bi Minah pasti aku selalu bercanda,  sesekali aku menolong bi Minah. Namun kali ini aku malas bertegur sapa, untuk tersenyumpun aku merasa malas. Seolah bibir ini terkunci. Tak ada kata yang ingin keluar dari mulut ini. Padahal dalam batin, dan pikiranku sungguh berkecamuk pikiran dan perasaan yang tidak menentu, sungguh aku serasa memikul beban yang sangat berat, yang beratnya melebihi ribuan ton batu. Entah apa yang ada dalam benak ini, aku tidak tahu.
Tapi dalam hati ini aku selalu merindukan seseorang yang mungkin dia pun sudah tak mengenalku. Tapi mengapa aku selalu merindukannya.
• • •
Setiap pulang kuliah, aku merasa aneh dalam beberapa hari ini, ketika aku melihat kendaraan roda dua atau mobil sekalipun yang berinisial Z. Hati ini terasa cenaat cenut dan dada ini berdegup kencang.
Sesekali terkadang aku suka duduk di pinggir jalan raya seperti orang gila. Aku biasa berdiam diri di jalan Rajawali Barat, Batas kota Bandung. Hanya sekedar untuk memcari-cari motor yang berinisial Z.
“ lagi ngapain neng cantik-cantik diem di pinggir jalan, awas bahaya lho neng” tanya pengemudi mobil angkot
“ ah, cuma suka aja kok pak” jawabku sekenaanya.
Sore itu aku melihat pengendara motor yang sama persis dengan seseorang yang pernah singgah di hati ini. Warnanya merah menyala, cara duduknyapun persis sama orang yang telah mencuri hati ini. Aku selalu ingat  cara dia  mengendarai motor kesayangannya. Aku selalu merasa nyaman dengannya, tapi kini dia tidak bersamaku, dan aku tidak tahu dia pergi kemana.
“Tuhan betapa aku merindukanya, temukanlah aku dengannya” lirihku dalam hati.
 Terakhir aku bertemu dengannya lima tahun yang lalu. Itu bukan waktu yang singkat. Rasanya berabat-abad aku menunggunya dan merindukannya. Ketika dia mengajak pergi pergi ke taman kota.
” Maya, anter aku ke taman kota yach?”. Ajaknya  dengan suara parau
“ aduh, za maaf kayanya aku tidak bisa untuk kali ini”. Jawabku
“ Mangnya kenapa?”. Tanyanya
“ Kali ini aku mau pergi nganter ibu ke pasar mu belanja, couse mau ada sodara yang dari Padang”. Paparku padanya.
Ku lihat raut wajah dia yang kecewa katika aku menolak ajakanya. Tapi ketika itu aku hanya bisa diam. Diapun beranjak pergi begitu saja, meninggalkan aku seorang diri di depan rumah. Tapi kala itu dia langsung pergi. Hanya berucap
“ Maya, maafkan aku jika ini adalah terakhir aku bertemu denganmu”.
Hanya itu yang dia ucapkan. Aku kira dia bercanda, aku biarkan saja dia pergi begitu saja. Tapi kala itu  aku memperhatikan punggungya, dan meliahat plat nomer motor yang tertera Z6824WV. Padahal itu tidak biasa aku lakukan. Aku memandang dia hingga aku tak melihat dan mendengar deruan motornya. Ketika itu hati kecil ini merasa menyesal menolak ajakannya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Dan kini aku merindukanya. Aku tak tahu dimana dia berada, bahkan kabarnya pun aku tidak tahu.
Setiap hari aku selalu duduk termenung di depan rumah menunggu dia datang menjemputku, tapi tak kunjung datang. Dan aku memutuskan untuk pergi ke kota kembang ini, untuk melanjutkan studyku sebari melupakanya. Tapi semakin ku coba melupakanya, hati ini semakin sakit dan rindu tak terbendung. Setiap malam dia hadir dalam mimpiku. Bahkan aku selalu mengigau dan menyebut namanya ” Riza, Riza, Riza. . .”. membut temanku terbangun dari tidunya. Seakan dada ini susah bernafas, yang ada dalam benakku hanya Riza, dan Riza. Terkadang aku menggigil, keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, seolah aku kerasukan mahluk halus padahal tidak.
Sungguh rindu ini sangat menyiksa hidupku. Seperti burung merindukan indukya. Arah hidupku tidak menentu. Mungkin selama ini orang-orang di sekelilingku tidak tahu  cerita hidupku. Padahal seyumku adalah ketirku, candaku resahku, bahkan tawaku cemasku. Menjalani  hidup ini seakan penuh dengan kepalsuan. Dan penuh dengan kebohongan.  
“ Memang hidup ini Panggung sandiwara”.
• • •
Disore yang cerah ini aku dan temanku Defa bergi jalan-jalan ke salah satu mall ternama di kota Bandung. Hanya untuk menghilangkan penat yang selama seminggu ini aku menyibukan diri dengan kegiatan kampus, perlahan aku mulai melupakannya. Ini yang terbaik dalam hidup ini, dan kalupun yang terbaik kuyakin dia akan datang menjemputku. Mulai saat ini aku harus lebih kuat dan tegar. Setiap segala sesuatu yang ku alami kemarin adalah sebagian cerita dalam hidup ini. Cerita-cerita selanjutnya masih meninggu, dan akan menghiasi jalannya hidup ini. Karena hidup adalah sebuah permainan.
Dalam hati kecil ini  berucap “  Z 6824 WV, im waiting you here” .
                                               

                                                                                                            Bandung, 14 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar