Cerpen
NAMAKU
Oleh Papa Samrotul Puadah
Malam semakin sepi deruan kendaraan semakin jarang terdengar, hanya hembusan nafas yang semakin menderu dan terdengar semakin cepat. Malam ini aku duduk di atas ranjang yang selama ini selalu setia menemaniku. Pikiranku sibuk memikirkan suatu masalah yang selama ini tak bisa terjawab dan terselesaikan. Terkadang aku selalu merasa bingung ketika teman-temanku menanyakan apa arti dari namaku. Aku bingung tidak bisa menjawabnya. Bahkan akupun selalu bertanya pada diri sendiri apa arti namaku??? Ya, namaku... Dan malam inipun aku memikirkan hal yang sama.
Kini mataku semakin tak kuasa lagi menahan kantukku yang sedari tadi menghinggapi, dan saudara sepupuku sudah tertidur pulas bahkan dia sudah mimpi lagi, mungkin dia sudah pergi ke alam lain yaitu pergi ke negeri dongeng impian dia. Karena selalu bercerita tentang manusia setengah dewa yang bernama Persus dari negeri Yunani itu merupakan pangeran impiannya yang akan membawa dia ke surga, dan terbang dengan sayap putih pemberian Dewa Cinta.
Ketika aku hendak memejamkan mata, sebentar aku memperhatikan raut wajahnya yang tanpa beban, beda dengan wajahku yang selalu kelihatan lebih tua darinya, padahal usiaku lebih muda darinya. Sungguh aku selalu merasa memikul beban yang beratnya, ribuan ton bahkan jutaan ton ya,,, karena aku selalu memikirkan apa arti namaku.
Sebuah nama itu sangat berarti dalam hidupku, bahkan ada yang mengatakan bahwa nama adalah doa. Tapi banyak orang yang tak peduli dengan namanya. Kini kebingunganku semakin membabi buta dalam hidupku. Setiap malam aku tak bisa memejamkan mata dengan tenang, karena di hantui oleh rasa penasaran apa arti namaku ini. Bahkan terkadang aku merasa aneh dalam menjalani hidup, dan mengapa segala sesuatu mempunyai nama. Setiap nama mempunyai arti, ya, , , setiap nama mempunyai arti. Akupun merasa begitu, pasti namaku ini memiliki arti, walaupun selama bernapas ini aku tidak pernah mengetahui apa arti namaku.
Pagi telah tiba, matahari memperlihatkan keindahan cahanya yang selalu menyinari jagat raya ini dan selalu berusaha untuk membuat makhluk didalamnya senang dan bangga ketika melihat bola besar yang berwarna keemasan memancarkan sinarnya. Pagi itu aku bangun lebih awal dari sepupuku padahal dia tidur labih awal daripada aku. Orang-orang di rumahku juga masih enggan membukakan kelopak matanya atau malu karena mereka terkalahkan oleh sang bola api yang telah lebih dulu bangun.
Akupun bergegas untuk pergi sekolah, walaupun sebenarnya aku benci sekolah karena teman-temanku selalu memojokkan namaku, bahkan mereka selalu menghinaku. Tapi harus bagaimana lagi aku tetap harus sekolah. Untuk mencapai apa yang aku cit-citakan. Pagi ini aku mengenakan long dress dan rambut seperti biasa aku kucir memakai karet gelang dan tanpa disisir. Walaupun mamahku selalu menasihati aku bahwa aku sudah besar dan berdandanlah seperti wanita lainnya, yang seumuran denganku. Karena kini aku duduk di bangku sekolah kelas satu SMA Budi Luhur, sekolah ternama di Asia Tenggara. Seluruh manusia di alam ini pasti mengetahuinya.
Sesampai di sekolah. baru saja aku menginjakkan kaki di depan gerbang sekolah, temanku yang bernama Suci menghampiriku seraya membisikkan sesuatu,
“ pagi Papah... minta uang dong buat jajan” sebari tersenyum melecehkan.
Aku tak hiraukan dia, karena setiap hari aku selalu di hinanya, dan kata-kata itu sudah makanan sehari-hari dalam hidupku.
Ketika aku menaikai anak tangga teman-teman lelaki memanggil-manggil namaku,
“Mamah Papah. . . “
dengan suara keras dan lantang, seolah-olah dia meremehkanku. Tapi aku sama sekali tak menghiraukan mereka. Tapi sungguh hati ini sangatlah sakit dan membatin. Aku tak habis pikir kenapa ayahku memberi nama Papa Samrotul Puadah. Dan ini merupakan nama teraneh yang pernah ada didunia ini, ya. . . sangatlah aneh dan semua orang selalu bertanya akan hal ini, sehingga aku merasa bingung untuk menjawabnya.
Bahkan teman-tamanku ada yang memanggilku dengan sebutan “Samro, Otul, Puad, Adah” dan lain sebagainya bahkan ada yang memanggilku dengan bahasa Asaing yaitu Dadi and Same. Unik bukan namaku. Tapi entah kenapa aku merasa bingung dengan nama-nama itu semua.
Baru saja aku hendak duduk temanku Elsa memangilku ,
“Samro. Samro (sampe ti jero), kenapa matamu merah kurang tidur yah?”
dengan nada manja dan senyumnya yang khas. tapi aku tak menjawab pertanyaannya karena hari ini aku tak mau berucap sepatah katapun. Rasanya malas sekali mulut ini untuk berkata, seakan terkunci. Akupun hanya menggelengkan kepala.
Ketika guru membacakan absen dan memanggil namaku, pasti semua teman dikelasku berkomentar dan berbicara mengenai namaku yang unik. Mungkin.
Waktu pulang sekolahpun tiba, aku merasa senang sekali karena hari ini pulang lebih awal dan aku akan menanyakan perihal namaku, mengapa ayah memberi namaku Papa? ? apa tidak ada yang lain ,yang lebih bagus. . . Ketika di perjalanan menuju rumah aku sibuk mencari kata-kata apa yang akan ayah sampaikan kepadaku.
Ketika sampai di rumah aku langsung memanggil bi Minah’
“bi, ayah ada tidak?”
“Tidak ada non, katanya bapak hendak keluar kota selama semingu, tadi juga nitip salam buat non”. Dengan logat jawanya yang has.
Ketika mendengar itu aku langsung pergi ke kamar, karena aku merasa kecewa padahal aku ingin bertanya mengenai apa arti namaku, yang membuat aku bingung dan merasa aneh. Karena tidak ada yang bisa menjawab pertanyanku kecuali ayahku. Kini ayahku pergi keluar kota untuk tugasnya. Sunguh aku semakin penasaran apa arti namaku. Di kamar aku hanya diam, dan sesekali aku berteriak seperti orang yang kurang waras. . .
“ayah apa arti namaku, kenapa kau memberi nama Papa aku tak mengerti”.
Bahkan aku menulisnya di papan tulis White board, dengan tinta Merah dengan tulisan besar-besar. Selama dua hari aku tidak bertegur sapa dengan orang yang ada di sekitarku, sepupuhku juga merasa lebih aneh dengan kelakuanku yang tak seperti biasa, karena biasanya juga aneh dan kali ini semakin aneh.
Pada hari ketiga ayahku menghubungiku, katanya dia akan pulang lebih cepat dari yang dijadwalkanya. Kira-kira besok malam dia sampai ke rumah. Aku merasa senang sekali ketika ayah bicara itu. Karena tak lama lagi aku akan mengetahui apa arti namaku. Ketika mendapat kabar itu aku sekarang kembali kepada kebiasaanku yang semula.
Setiap waktu aku selalu melihat jam untuk mengetahui berapa jam lagi ayahku akan pulang ke rumah. Dan aku selalu tersenyum sendiri karena aku akan tahu apa arti namaku. Sungguh hati ini sangatlah senang dan berbunga. Seolah aku akan menerima lamaran dari seseorang yang aku cintai dan sayangi. Sehingga bibiku berkata:
“nona, lagi kasmaran yah? Bibi perhatiin dari tadi non, senyam-senyum kaya yang seneng banget”.
Dengan logat yang khas sebari tersenyum, dan mengedipkan matanya sebelah. Memang bibiku bisa dikatakan orangnya agak ganjen, ya walaupun dia sudah tua.
Waktu yang di tentukan pun datang. Dan ini membuat hatiku berderu dengan kencang. Karena ayahku sudah take off dari Sulawesi. Sekitar jam 11.00 malam ayahku akan tiba di rumah. Dan aku menyuruh bi Minah untuk menyiapkan makan malam special untuk aku dan ayahku. Kusuruh bibi memasak makanan kesukaan ayah yaitu cheese omlate and spagheti. Akupun berdandan secantik mungkin , biasanya aku cuek dalam penampilan tapi untuk malam ini aku mencoba mematut- matuti wajahku dengan bedak seadanya, dan memakai baju hadiah ulang tahun dari ayah, yang selama ini aku gak pernah memakainya. Dan aku ingin melihat ayah tersenyum dan mengatakn bahwa kini anakmya sudah dewasa dan cantik mirip ibunya.
Jam sudah menunjukan 21.50, dan ini berarti ayah satu jam lagi akan sampai rumah. Dan aku semakin deg-degan karena tinggal menghitung second aku akan mengetahui apa arti namaku, ya arti namaku. Kini aku duduk di ruang depan karena aku akan membukakan pintu untuk ayahku, dan kusuruh bi Minah untuk istirahat terlebih dahulu karena aku tahu dia sangat lelah, dan butuh istirahat.
Jam sudah menunjukkan waktu 20.40, ini berarti ayah sebentar lagi akan datang. Walaupun rasa kantuk sudah datang menghampiriku tapi aku mencoba untuk menahannya , karena aku takut ketiduran dan rencana yang sudah disiapkan gagal.
Namun tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 00.00 namun ayah tak kunjung datang, dan aku mulai gelisah, takut ada sesuatu yang terjadi dengan ayahku . Dan benar saja pesawat yang ayah tumpangi jatuh, dan seluruh penumpang meninggal. Tak terkecuali ayah. Sungguh hati ini amat hancur tak karuan.
Semenjak kejadian itu, hidupku semakin tak karuan, dan rasa penasaranku mengenai arti namaku belum terjawab, aku semakin gelisah dan resah. Pada malam yang begitu kelam menyelimuti bumi kecil dengan warna hitamnya, hujan deras bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang menyambar-nyambar dengan suaranya yang menggelegar seperti raksasa alam yang murka. Ketika itu datanglah seorang peri cantik menghampiriku, dan aku benar-benar terkejut ketika dia memanggil namaku dengan halus dan lembut.
“Papa...Papa”.
aku benar-benar terkejut kenapa dia tahu namaku. Dia berkata dengan halus dan lembut
“ Papa, janganlah kamu bersedih , kamu harus yakin bahwa ayahmu sangat sayang padamu, dan namamu begitu indah, peri yakin bahwa namamu mengandung arti yang bagus, sehinga tak seorang pun yang mengetahuinya”.
Dia pun pergi entah kemana. Dia berjanji bahwa dia akan selalu menjagaku.
Semenjak itu aku yakin ayah menyimpan suatu arti yang bermakna di balik namaku yang unik dan aneh ini. Karena nama adalah warisan, Aku harus menjaganya.
Senin, 6 des 2010